27 Januari 2008

Mengenai Tanawangko


Tanawangko adalah kota kecamatan Tombariri terletak sebelah barat kira2 20 km dari kota Manado melalui Malalayang menyusur pantai yang jalannya berliku-liku dan cukup berbahaya sebab menyusur jurang. Namun jalan ini tak pernah sepi selama 24 jam karena daerah ini banyak terdapat hotel2, resort, tempat rekreasi dan juga jalan ini adalah merupakan Trans Sulawesi. Salahsatu tempat rekreasi adalah Tasik Ria ( 2 km dari Tanawangko ) dimana terdapat pantai yang indah yang dulunya kita sebut Elu’, disini juga terdapat hotel Manado Beach dan juga resort dan bungalow2 dgn fasilitas kolam renang, penyelaman, dll.
Tanawangko sendiri terletak di tepi pantai di delta yang sempit sehingga dari laut kelihatan sangat indah karena latar belakang oleh bukit2. Tanawangko terdiri dari 4 desa yaitu Tambala, Sarani, Borgo, dan Ranowangko dengan jumlah penduduk 15000 jiwa dengan mata pencarian utama adalah petani dan nelayan. Masyarakat Tanawangko dari dulu terkenal akan toleransinya dimana penduduknya yang beragam dengan dua keyakinan yang berbeda yaitu Kristen 80 % dan Islam 19 %,1 % lain2 yang hidup secara rukun.Terdapat dua kampung Islam yaitu Kampung Baru yang masuk Desa Tambala dan kampung Islam (Kampung Tua) yang masuk Desa Borgo.
Sebagai kota kecamatan dari kececamatan Tombariri banyak orang yang sering salah dengan meyebut kecamatan Tanawangko sebab memang nama ini sudah lama dan lebih dulu popular dari Tombariri karena sejak 1800 sudah berdiri sekolah guru dan juga koran pertama di Minahasa.Dan juga sebagai pusat perdangangan dari kecamatan Tombariri karena adanya pasarnya.Adapun kecamatan Tombariri terdiri dari 12 desa ( Tambala, Borgo, Ranowangko, Sarani, Senduk, Kumu, Teling, Poopoh, Ranotongkor, Lolah, Lemoh, Mokupa ).Diantara Tanawangko dan Poopoh terdapat tempat rekreasi bernama Mangatasik yang selalu ramai dikunjungi masyarakat Manado dan Minahasa dan juga dari mancanegara karena terdapat Minahasa Langoon yang khusus hanya untuk bule (?).

24 Januari 2008

Lagu Tanawangko Kekasihku

Tanawangko kekasihku.

Tanawangko yang kekasihku, siang malam tak kulupa.
Kiri kanan bergunung-gunung,dipandang dengan hati bersuka.
Lihat kelaut Manado-Tua, lihat kedarat si Worong-Sanger.
Lihat kemuka ada satu gunung yang tinggi nama Gunung Tatawiran.
Kumu,Teling, Popal, Poopoh, Tasik-Ria serta Mokupa.
Paser-Panjang, Om Kelaus, Batu-Besar serta Mandolang.
Bulo,Tateli kong Kalasey, Malalayang, Bahu, Manado.
Tara-Tara, Ranotongkor, Lola dan Lemoh.
Tanawangko negriku.

Lagu gubahan: Unknown.
.

22 Januari 2008

Kalau kita Optimis

Kalau optimis, nafas akan semakin baik!

Semakin optimis seseorang, maka semakin baiklah fungsi paru Anda, kata sebuah penelitian dari RS Wanita Brigham dan Sekolah Kedokteran Harvard di Boston, Massachusetts.
Ajakan ini memang tidak sia-sia, karena mereka yang optimis akan memiliki fungsi paru yang sangat baik. Semakin optimis seseorang, maka semakin baiklah fungsi paru Anda, kata sebuah penelitian. Hal ini jelas melapangkan saluran nafas Anda.
Penelitian ini meliputi 670 pria yang rata-rata berusia 63 tahun pada awal penelitian. Mereka diamati selama rata-rata delapan tahun dan selama itu rata-rata mendapat pemeriksaan paru-paru tiga kali. Sebuah kuesioner khusus digunakan untuk menentukan bagaimana perasaan mereka tentang hidup.
Dari pengamatan itu, ternyata pria yang optimis memiliki fungsi paru yang lebih besar dan penurunan fungsi parunya tidak sebanyak yang dialami rekan mereka yang pesimis. Penemuan ini dipresentasikan dalam pertemuan tahunan Masyarakat Torasik AS di Atlanta.
Menurut peneliti, penemuan mereka adalah yang pertama menyelidiki kaitan antara kelebihan fungsi paru dan optimistik. Mereka mengatakan, seorang yang terbuka mungkin berpengaruh terhadap proses sistem kekebalan tubuh yang memainkan peranan dalam aliran pernafasan yang terkait dengan penyakit paru obstruktif kronik.
Mereka berencana akan memeriksa apakah optimis mempunyai pengaruh yang sama terhadap fungsi paru bagi wanita, orang muda atau orang dengan ras berbeda.
@ sumber : satumed.com